Faust
Oleh: Johann von Goethe
FAUST
Bagian Pertama
Dedikasi
Saya akan menyanyikan kembali
dalam bahasa saya sendiri,
apa yang telah saya rasakan,
apa yang telah saya alami,
dan apa yang telah saya terima.
Pembukaan di Teater
Saya ingin menghidupkan kembali
dunia kuno yang telah mati,
dengan semangat baru,
dan kekuatan yang lebih besar.
Prolog di Surga
Tuhan dan Malaikat
berbicara tentang manusia,
yang diciptakan menurut gambaran Tuhan,
namun jatuh ke dalam dosa.
Adegan Pertama: Ruang Belajar Faust
Faust, seorang sarjana,
merasa tidak puas dengan ilmu pengetahuan,
dan mencari kebenaran yang lebih dalam,
dalam dunia sihir dan okultisme.
Adegan Kedua: Labolatorium
Faust bereksperimen dengan sihir,
dan memanggil roh jahat,
yang menjanjikan kekuatan dan pengetahuan,
namun dengan harga yang mahal.
Adegan Ketiga: Gereja
Faust melihat seorang gadis cantik,
Gretchen, dan jatuh cinta,
namun cintanya tidak murni,
dan dia menggunakan sihir untuk memenangkan hatinya.
Adegan Keempat: Jalan
Faust dan Mefistofeles,
roh jahat yang dia panggil,
berjalan di jalan,
dan berbicara tentang rencana mereka.
Adegan Kelima: Kamar Gretchen
Gretchen, gadis cantik,
merasa tidak bahagia,
karena cintanya tidak dibalas,
dan dia menggunakan sihir untuk memenangkan hati Faust.
Adegan Keenam: Taman
Faust dan Gretchen,
berjalan di taman,
dan berbicara tentang cinta mereka,
namun cinta mereka tidak murni,
dan mereka menggunakan sihir untuk mempertahankannya.
Adegan Ketujuh: Kamar Faust
Faust, merasa tidak puas,
dengan cintanya yang tidak murni,
dan kekuatan sihir yang dia miliki,
mencari kebenaran yang lebih dalam,
dalam dirinya sendiri.
Bagian Kedua
Adegan Pertama: Istana Kaisar
Faust, menjadi penasihat kaisar,
menggunakan kekuatan sihirnya,
untuk memenangkan perang,
dan memperluas kekuasaan kaisar.
Adegan Kedua: Taman Istana
Faust, merasa tidak puas,
dengan kekuasaan yang dia miliki,
mencari kebenaran yang lebih dalam,
dalam dirinya sendiri,
dan dalam cinta yang murni.
Adegan Ketiga: Gua
Faust, mencari kebenaran,
dalam gua yang gelap,
dan menemukan bahwa kebenaran,
adalah cinta yang murni,
dan kekuatan yang tidak terbatas.
Adegan Keempat: Pantai
Faust, melihat cinta yang murni,
dalam diri seorang wanita,
yang telah meninggal,
dan dia menyadari bahwa cinta,
adalah kekuatan yang tidak terbatas.
Adegan Kelima: Taman
Faust, merasa bahagia,
dengan cinta yang murni,
dan kekuatan yang tidak terbatas,
mencari kebenaran yang lebih dalam,
dalam dirinya sendiri.
Epilog
Faust, telah menemukan kebenaran,
dalam cinta yang murni,
dan kekuatan yang tidak terbatas,
dan dia meninggal dengan damai,
dalam pelukan cinta yang murni.