The Lady of Shalott
Oleh: Alfred Tennyson
Pada sebuah pulau di sungai yang mengalir,
Di antara rumpun ilalang yang meliuk-liuk,
Berdirilah menara, yang dulu kala,
Seorang putri tinggal, dengan hati yang pilu.
Dia menjalin sehelai kain, dengan benang emas,
Dan merenungkan wajah-wajah yang pernah dilihat,
Di cermin ajaib, yang memantulkan bayang-bayang,
Dari kehidupan di luar, yang tak pernah disentuh.
Dia melihat kehidupan, dengan mata yang jauh,
Dan mendengar suara-suara, yang tak pernah terdengar,
Dia melihat kekasih-kekasih, yang berjalan bersama,
Dan merasakan kesepian, yang tak pernah terobati.
Tapi kemudian dia melihat, seorang ksatria tampan,
Lancelot, yang gagah berani, dengan senyum yang manis,
Dia melihatnya, dan jatuh cinta, dengan hati yang pilu,
Dan merasakan kesedihan, yang tak pernah terobati.
Dia meninggalkan menara, dan mengarungi sungai,
Dengan perahu kecil, yang terbawa arus,
Dia menuju ke Camelot, dengan hati yang berdebar,
Untuk menemui Lancelot, dan mengungkapkan cintanya.
Tapi ketika dia tiba, dia mendapati kematian,
Dan Lancelot, yang telah melupakan namanya,
Dia meninggal, dengan hati yang pilu,
Dan pergi ke alam baka, dengan kesedihan yang abadi.
Kemudian orang-orang, di Camelot, menemukan,
Mayat putri, yang cantik dan murni,
Mereka memandikannya, dengan air yang jernih,
Dan menguburnya, dengan upacara yang khidmat.
Dan di atas makamnya, mereka menulis,
Nama putri, yang cantik dan murni,
Dan kisah cintanya, yang tak pernah terobati,
Sebagai peringatan, bagi mereka yang masih hidup.