Di cermin waktu, wajahmu terbayang, Bukan aku yang kini, tapi yang terbuang. Ia berdiri di ambang pintu pagi, Dengan mata yang belum kenal lagi arti sepi.
Aku yang dulu, selembar kertas putih, Belum ternoda tinta pahit getir kehidupan. Langkahmu ringan, tanpa beban keluh, Memeluk janji yang tak sempat lumpuh oleh kenyataan.
Kau adalah riang yang tak kenal cemas, Tertawa lepas di bawah langit tanpa batas. Kukira bahumu tak pernah memanggul lelah, Sebab dunia bagimu hanyalah taman yang indah.
Aku yang kini, datang menziarahi jejakmu, Mencari senyum yang tertinggal di debu pilu. Kulihat guratan di wajah yang tak kau kenal, Bekas badai yang menjadikanku kekal.
Terima kasih, wahai diriku yang lampau, Kau adalah fondasi bagi menara waktu yang teguh. Walau kita berjarak, dipisahkan laju, Kau tetap hidup, di setiap helai rindu.
Diskusi Pembaca